Untitled Document
Sunday, Aug 19 2018 Visitors : 100,593 hit Member: 822 LOGIN  
N E W S FORUM DOWNLOAD PHOTO VIDEO REGISTRATION MANUSCRIPT SUBMISSION HOTEL CONTACT
     
Untitled Document
Overview
Patron and Committee
Information on the Symposium
Symposium Programs
Map and Accommodations
Exhibition & Exhibitors
Sponsorship
Tours
General Information
Sponsors and Supported by
 
IMPORTANT DATES
January 31, 2013
Abstract submission
Early Bird Registration
 
February 15, 2013
Notification of abstract acceptance
 
April 21-26, 2013
Symposium & Exhibiton
 
April 24, 2013
Mid-Symposium Excursions
N E W S
 
ARLI : Larangan Ekspor Rumput Laut Bisa Hilangkan Devisa
May 12 2015 10:09:44 - Source: Kadin - last read: Aug 14 2018 (949 x)
 
ARLI : Larangan Ekspor Rumput Laut Bisa Hilangkan Devisa

Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI) menyatakan bahwa potensi lahan untuk pengembangan rumput laut di Indonesia demikian luas dan dapat berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja. Namun di sisi lain, isu pelarangan ekspor dan bea keluar ekspor rumput laut dinilai dapat menghambat pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis di sektor itu.

“Indonesia merupakan salah satu eksportir terbesar rumput laut dan produksi kita memang banyak. Hanya saja, bila kita bisa mengekspornya kenapa harus dihambat dengan bea keluar?. Pelarangan ekspor bisa berimbas pada penyerapan tenaga kerja dan berkurangnya pendapatan masyarakat,” ungkap Ketua ARLI, Safari Azis di sela-sela Forum De La Mer (Forum Kelautan) di El Jadida, Maroko yang berlangsung 6-10 Mei 2015.

Menurut dia, kebutuhan rumput laut bagi industri Indonesia masih bisa terpenuhi karena penyerapannya masih kecil. Sehingga produksi rumput laut yang banyak berlebih bisa diekspor ke negara-negara yang selama ini memerlukan bahan baku rumput laut dari Indonesia. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukan bahwa di tahun 2013 produksi nasional rumput laut sedikitnya mencapai 930.000 ton kering. Jumlah yang diekspor mencapai 176.000 ton kering dengan nilai 162,4 juta US$$. Sementara jumlah yang diolah lebih kecil yakni hanya mencapai 120.000 ton kering.

“Kami mendukung upaya hilirisasi oleh pemerintah, hanya saja kami juga mengharapkan agar program hilirisasi itu bisa dipersiapkan dengan matang. Salah satunya adalah dengan meningkatkan daya saing industri nasional, penyerapan teknologi, investasi hingga akses pasarnya,” papar Safari.

Menurutnya, jika industri dalam negeri tidak dapat bersaing dengan industri Luar, efesiensi dan produktivitasnya harus ditingkatkan. Pihaknya juga meminta agar pemerintah tidak menjadikan program hilirisasi sebagai alasan utama dibalik pengenaan larangan ekspor dan bea keluar untuk rumput laut. “Untung ruginya harus dihitung dengan cermat. Jangan sampai potensi devisa hilang begitu saja sementara lahan dan calon tenaga kerja masih banyak” pungkas Safari.




 

 
 
Untitled Document
 
 
 
Copyright @ 2014. Asosiasi Rumput Laut Indonesia (ARLI)
All rights reserved.
 
Secretariat : Graha Media Lantai 1, Jalan Blora No. 8 Jakarta, Indonesia
Telp : +62 21 3919231
Fax : +62 21 3919235
Email : info@arli.or.id
bpparli@yahoo.com